Wednesday, April 25, 2007

Sejarah Singkat Munculnya Foreign Exchange Market

The Gold Exchange dan perjanjian Bretton Woods

Menjelang akhir era 1960-an, Bank Chicago pernah menolak permohonan pinjaman seorang Professor universitas berupa sejumlah mata uang Inggris. Ia menganggap bahwa nilai currency tersebut sudah terlalu tinggi dibanding Dollar Amerika, sehingga ia bermaksud untuk menjualnya di pasar.

Rencananya pada saat nilai Poundsterling tersebut mulai melemah dibanding Dollar Amerika ia akan melakukan pembelian kembali dan membayar hutangnya kepada Bank, dan kemudian mengantongi keuntungan yang tersisa.

Penolakan bank Chicago tersebut dikarenakan adanya perjanjian Bretton Woods yang telah disepakati 20 tahun sebelumnya.

Perjanjian Bretton Woods dirumuskan pada tahun 1944 bertujuan untuk mendirikan stabilitas moneter internasional dan mencegah kaburnya arus dana keluar negeri, disamping tetap memberi sikap tegas terhadap spekulan mata uang.

Prioritas utama perjanjian ini adalah untuk mengatasi dominasi pertukaran emas terhadap perekonomian dunia. Pada masa pertukaran emas, mata uang mengalami beberapa tahap stabilitas, dan dalam prosesnya telah menghapus peraturan lama yang memungkinkan raja atau pembuat peraturan mencetak dan memperbanyak mata uang secara semena-mena yang akhirnya menimbulkan tekanan inflasi yang tinggi.

Tetapi sistim pertukaran emas tidak kekurangan kelemahan, ketika pertumbuhan ekonomi mulai menguat, terjadi impor emas dalam skala besar dari negara lain, yang membuat arus uang yang keluar sangat besar dan menyebabkan peredaran uang di dalam negeri menjadi sangat sedikit. Hal tersebut memicu kenaikan suku bunga dan memperlambat aktivitas ekonomi yang mendorong negara ke dalam resesi.

Akhirnya, harga barang menjadi sangat rendah dan menimbulkan arus pembelian yang sangat besar dari negara lain, yang kemudian menciptakan cadangan emas baru, hal tersebut akan terus berlanjut sampai mampu menyuplai cukup uang didalam negeri dan mendorong perekonomian tumbuh kembali.

Setelah Perang Dunia I, perjanjian Bretton Woods ditemukan, dimana negara partisipan setuju untuk memelihara dan menentukan nilai mata uang mereka sendiri dibanding Dollar.

Negara-negara dilarang mendevaluasi mata uang untuk keuntungan perdagangan mereka, pendevaluasian hanya disetujui jika kurang dari 10%.

Namun dalam tahun 1950 terjadi ledakan arus modal yang didorong oleh kebutuhan pengembangan pasca perang dunia. Hal tersebut mendorong tidak stabilnya mata uang sebagaimana yang telah disepakati di dalam perjanjian Bretton Woods.

Perjanjian tersebut akhirnya ditinggalkan pada tahun 1971, dan Dollar Amerika tidak pantas lagi disetarakan dengan emas. Pada tahun 1973, mata uang negara-negara industri menjadi semakin mengambang (Floating), yang kendali utamanya dipegang oleh kekuatan penawaran dan permintaan yang terjadi di Foreign Exchange Market. Pasar terus mengambang dengan volume dan fluktuasi yang tinggi sejak era 1970-an, dan memberikan kesempatan munculnya instumen baru dalam pasar uang, deregulasi pasar dan liberalisasi perdagangan.

Pada tahun 1980-an penyebrangan arus modal bertambah cepat dengan adanya peningkatan komputerisasi dan teknologi, hingga menerobos benua Asia, Eropa dan Amerika. Transaksi perdagangan meningkat pesat dari $ 70 billion dalam satu hari pada tahun 1980-an menjadi $ 1,5 trillion/ hari dalam dua dekade berikutnya.

Ledakan pada pasar Eropa

Katalisator utama terhadap percepatan Foreign Exchange trading adalah tumbuh pesatnya eurodollar market, dimana US Dollar sangat banyak didepositokan di luar negeri.

Ledakan tersebut dimulai tahun 1950-an ketika semua pendapatan hasil penjualan minyak Rusia dalam bentuk Dollar dan didepositikan diluar Amerika Serikat karena adanya ketakutan dana tersebut akan dibekukan oleh pemerintah Amerika. Hal tersebut menimbulkan kenaikan jumlah Dollar yang beredar dinegara lain diluar pengawasan Amerika.

Dilain pihak Euromarket, jauh lebih menarik dibanding pasar Amerika, dengan peraturan yang lebih lunak dan mampu menawarkan hasil yang lebih tinggi. Sehingga pada akhir tahun 1980-an perusahaan-perusahaan Amerika mulai mengambil pinjaman dari luar negaranya, dan menemukan Euromarket sebagai pasar paling liquid, yang menyediakan pinjaman jangka pendek untuk membiayai aktifitas ekspor dan impor.

Pada saat itu London masih tetap menjadi pasar utama dunia, dan pada tahun1980, ia juga menjadi pusat pasar bagi eurodollar, proses tersebut berkembang ketika bank Inggris mulai meminjamkan dollarnya sebagai alternatif terhadap Pound agar dapat mempertahankan posisi mereka sebagai pemimpin di pasar keuangan global. Lokasi geografis yang strategis di London (beroperasi antara pasar Asia dan Amerika) juga menjadi instrumen pendukung untuk mendominasi Euromarket.

No comments: