Wednesday, April 25, 2007

Empat Faktor Perencanaan Investasi

Pertama.

Mengenai tujuan keuangan yang spesifik.

Investasi khususnya untuk jangka penjang memerlukan perencanaan yang matang. Dan, perencanaan itu dilandasi oleh tujuan. Apa yang menjadi tujuan kita berinvestasi sesungguhnya?

Tujuan investasi bagi diri kita penting untuk disadari. Dengan begitu, kita bisa memulai perencanaan investasi berikut strategi-strategi yang akan dipakai.

Menetapkan tujuan hidup tidak semudah membalikkan tangan. Kebanyakan orang tidak memahami tujuan hidupnya. Sebagian besar justru terkesan ikut arus saja.

Ada beberapa cara yang dapat membantu seseorang dalam menetapkan tujuan investasi, sekaligus menyadarkan arti penting kualitas hidup yang hendak dicapai. Banyak momen-momen hidup yang penting artinya bagi kita.

Momen-momen hidup dapat diartikan sebagai kejadian-kejadian dalam hidup kita keseharian, baik dilakukan secara sengaja ataupun tidak. Momen hidup juga memberikan kesan dan kenangan yang mendalam bagi seseorang.

Momen hidup seringkali melibatkan titik emosional. Kita tahu satu momen itu ada pada kehidupan kita saat kita menangis, terharu,
bahagia, marah, atau tertawa.

Momen hidup itu bisa kita ciptakan, misalnya berlibur ke Eropa dengan istri dan anak-anak. Untuk mencapai momen hidup tersebut diperlukan `sedikit' dana. Sedikit sengaja dalam tanda kutip karena tingkat kebutuhan akan finansial relatif berbeda pada setiap orang.

Untuk mencapai tingkat dimana seseorang mampu mendanai momen hidupnya dengan baik dan berkualitas, perlu disiapkan perenaan dari sekarang. Seberapa besar dana yang diperlukan, perlu dihitung sedari awal.

Momen hidup dan gaya hidup seseorang sangat berpengaruh pada kondisi keuangan keluarga atau satu rumah tangga sekarang dan di masa datang. Beberapa contoh momen hidup yang sangat berpengaruh itu a.l. menikah, membeli atau membangun rumah, melahirkan anak, menyekolahkan anak, membuka usaha baru, merencanakan jenjang karir, naik haji bagi seorang muslim atau ziarah di Yerusalem bagi seorang kristiani. Dan, yang terakhir mungkin pensiun.

Contoh momen-momen hidup di atas dapat diambil sebagai dasar perencanaan investasi, terlepas bagaimanapun kondisi keuangan anda dan berapa usia anda saat ini.

Kedua.

Jangka waktu yang dibutuhkan.

Begitu tujuan spesifik yang ingin dicapai telah ditetapkan, hal selanjutnya adalah menentukan kapan tujuan tersebut ingin dicapai?
Dan, berapa banyak dana yang dibutuhkan?.

Jangka waktu investasi serta besarnya dana yang dibutuhkan terkait langsung dengan berapa besar dana yang harus disisihkan tiap bulan atau secara berkala guna mencapai tujuan tersebut.

Semakin panjang jangka waktu investasi yang diinginkan seperti dana pensiun, misalnya, bila Anda berumur 25 tahun saat ini, maka dana yang harus disisihkan secara berkala akan lebih kecil dibandingkan dengan bila menyiapkannya saat anda telah berumur 35 tahun, dengan waktu pensiun yang sama di usia 55 tahun.

Keterkaitan lain adalah risiko yang dapat dipilih. Bila sejak muda menyiapkan dana, maka instrumen dengan tingkat pengembalian tinggi yang berkaitan dengan tingkat risiko tinggi pula, dapat dipilih. Mengapa?

Karena dengan jangka panjang, perubahan tingkat pengembalian (risiko) akan tetap lebih besar dengan tingkat pengembalian bunga-berbunga (compound rate) dibandingkan dengan investasi dengan tingkat risiko rendah (tingkat pengembalian rendah).

Jadi dengan menentukan jangka waktu investasi yang dibutuhkan dan besarnya dana yang ingin dicapai, maka dapat dihitung berapa besar dana yang harus disisihkan dengan instrumen investasi yang telah dipilih secara berkala.

Sebagai contoh, orang yang berusia 25 tahun dan ingin pensiun di usia 55 tahun. Maka jangka waktu investasinya adalah 30 tahun. Dana yang dibutuhkan selama Anda pensiun sebesar 1 miliar. Maka dapat dihitung besarnya dana yang harus disisihkan tiap bulannya.

Dari hasil perhitungan sederhana saja, besarnya dana yang perlu disisihkan sekitar Rp. 85,750/bulan selama 30 tahun dengan asumsi bunga 10 persen. Sangat jelaslah bahwa dengan merencanakan jauh hari sebelumnya, kesejahteraan finansial akan lebih mudah dicapai.

Jadi tidak heran, wisatawan Jepang banyak terkenal dari kalangan kelompok pensiunan paling makmur di dunia. Mereka telah merencanakan investasi masa tua sejak hari pertama menginjak ruangan kerja. Di masa tua, bebas melanglang buana ke mana saja suka.

Faktor pertimbangan invetasi keempat adalah toleransi terhadap risiko

Penjelasan mengenai sejauh mana tingkat toleransi seseorang terhadap risiko sangat terkait dengan pengetahuan yang berhubungan risiko atau risk dan tingkat pengembalian atau return.

Investasi akan selalu memiliki tingkat resiko berbanding lurus dengan tingkat pengembaliannya. Apabila anda menginginkan tingkat pengembalian yang tinggi anda juga harus menerima tingginya tingkat resiko.

Setiap individu memiliki tingkat toleransi yang berbeda-beda terhadap risiko, ada yang berani mengambil risiko sampai level tertentu atau malah ada yang takut menghadapi banyak risiko.


Kita harus mengenali kondisi diri sendiri, apabila seseorang menginginkan tingkat pengembalian yang tinggi akan tetapi ia sendiri termasuk orang yang memiliki tingkat toleransi rendah terhadap resiko, maka akan timbul konflik di dalam dirinya dalam berinvestasi.

Hal ini sangat penting untuk memahami tingkat toleransi terhadap risiko. Karena, dengan tingkat toleransi yang rendah akan risiko, maka investasi pada potensi pengembalian tinggi akan membuatnya strees.

Itu karena, jauhnya perbedaan tingkat toleransi terhadap risiko dengan tingkat pengembalian yang dinginkannya. Oleh karena itu, instrumen investasi dengan tingkat toleransi diri sendiri perlu disesuaikan.

Berinvestasi tidak mutlak membawa adrenalin tinggi pada diri seseorang

No comments: